Entri Populer

Rabu, 09 November 2011

HADIS AHLAK TERPUJI

2 HAL YANG PALING BANYAK MEMASUKAN ORANG KE DALAM SYURGA DAN NERAKA

Khutbah Pertama
Pembukaan
حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء, قال: حدثنا عبد الله بن ادريس, قال : حدثني أبي, عن جدي, عن أبي هريرة : قال سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ فقال :  )تقوى الله و حسن الخلق), و سئل عن أكثر ما يدخل الناس النار؟ فقال: (الفم و الفرج).
Artinya:
Memberitakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin al-‘Ala, berkata: memberitakan kepada Kami ‘Abdullah bin Idris, berkata: bapakku memberitakan kepadaku, dari kakekku, dari Abu Hurairah, berkata; Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hal yang menyebabkan kebanyakan manusia dimasukan ke dalam syurga? Maka beliau menjawab: takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik. Dan ketika di ditanya; apakah yang menyebabkan kebanyakan manusia dimasukan ke dalam neraka? Beliau menjawab: mulut dan kemaluan.

Hadits-hadits ini adalah menerangkan keutamaan akhlak yang baik, darinya adalah hadits yang berasal dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya; hal apa yang menyebabkan kebanyakan manusia masuk ke dalam syurga? Yakni sesuatu apakah itu yang menyebabkan kebanyakan manusia dimasukan ke dalam syurga? Maka Rasulullah menjawab: takwa kepada Allah dan berbuat baik.
Takwa kepada Allah Ta’ala, pengertian dari kalimat ini adalah menjalankan semua perkara yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan semua larangan yang dilarang oleh-Nya, inilah yang disebut dengan takwa, karena takwa diambil dari kata wiqoyah, yang berarti bahwa semua manusia meminta perlindungan dari adzab Allah dan tidak ada sesuatupun yang dapat melindungi dari adzab Allah kecuali menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.[1]
Di antara ciri-ciri orang yang bertaqwa kepada Allah itu adalah:
1.      Gemar menginfaqkan harta bendanya di jalan Allah, baik dalam waktu sempit maupun lapang.
2.      Mampu menahan diri dari sifat marah.
3.      Selalu memaafkan orang lain yang telah membuat salah kepadanya (tidak pendendam).
4.      Tatkala terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau mendzalimi diri sendiri, ia segera ingat kepada Allah, lalu bertaubat dan beristighfar, memohon ampun kepada-Nya atas dosa yang telah dilakukan.
5.      Tidak meneruskan perbuatan keji itu lagi, dengan kesadaran dan sepengetahuan dirinya.[2]
Sedangkan akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.”[3]
Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat Rasulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: تقى الله و حسن الخلق) ( ”Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.”[4]
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa Rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”[5]
            Dan kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka adalah  الفم و الفرج(mulut dan kemaluan). Adapun mulut yakni ucapan lisannya karena sesungguhnya manusia terkadang mengucapkan kalimat tanpa peduli kalau hal tersebut akan menyebabkan ia masuk ke dalam neraka selama tujuh puluh musim atau tujuh puluh tahun,[6] wa na’udzu billah min dzalik.
Berbicara  tidaklah melelahkan manusia, tidak seperti aktifitas tangan, kaki, dan mata sering melelahkan manusia. Karena aktifitas lidah itu tidak melelahkan, maka sering didapatkan orang banyak bicara sesuatu yang membahayakan dirinya, seperti ghibah, namimah, melaknat, mencela, dan mencaci, akan tetapi ia tidak menyadari hal itu, sehingga ia memperoleh dosa yang banyak karena perbuatannya itu.
Dalam makalah ini, penulis menerangkan perbuatan mulut yang sering dilakukan oleh manusia yaitu ghibah. Ghibah artinya engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik yang menyangkut kekurangan pada badannya, seperti penglihatannya yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya yang botak, dan lain-lainnya, atau yang menyangkut nasabnya, seperti perkataanmu, “Ayahnya berasal dari rakyat jelata, ayahnya orang India, orang fasiq” dan lainnya, atau menyangkut akhlaknya, seperti perkataanmu, “Dia akhlaknya buruk dan orangnya sombong”, dan lain-lainnya.[7]
            Adapun farj (kemaluan) maksudnya di sini adalah zina, dan lebih keji dari itu adalah liwath (homo seksual). Hal yang demikian itu banyak menjerumuskan manusia terutama para pemuda. Membuat manusia terbuai, sedikit demi sedikit hingga mereka terjerumus pada kemaksiatan dan mereka tidak menyadarinya.
            Ketika kita mengetahui hal-hal yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam syurga yaitu takwa dan berbuat baik, maka kita akan berusaha mendapatkannya, dan juga hal-hal yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka yaitu, mulut dan kemaluan, maka kita akan berusaha  untuk menjauhinya, adapun bunyi haditsnya adalah sebagai berikut:
حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء, قال: حدثنا عبد الله بن ادريس, قال : حدثني أبي, عن جدي, عن أبي هريرة : قال سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ فقال :  )تقوى الله و حسن الخلق), و سئل عن أكثر ما يدخل الناس النار؟ فقال: (الفم و الفرج).

Khutbah kedua

Doa dan sholat

Abu Ibrohim el-kartady


[1] Syekh ‘Utsaimin, Syarh Riyadhu Shalihin an-Nawawi, Juz II (Cet. I; kairo:  Dar al-‘Aqidah, 1423H/2002M), h. 488.
[2] Lihat, QS. Al-Imran: 133-135
[3] Lihat: HR Tirmidzi, dari abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishahihkan Al-Bany dalam Ash-Shahihah No. 284 dan 751).
[4] Muhammad bin ‘isa bin Sauroh at-Tirmidzi, op.,cit, h.454.
[5] HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali.
[6] Lihat: Syekh ‘Utsaimin, op.,cit., h. 488-489.
[7] Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah, Mukhtashar Minhajul Qashidin, terj. Katur Suahardi, Minhajul Qashidin, Jalan orang-orang yang Mendapat Petunjuk (Cet. XII; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), h. 213.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar